Walaupun orang tua sudah berusaha merawat bayinya sebaik mungkin dan sarat dengan teori-teori yang dibaca dari buku-buku mengenai cara merawat bayi/anak, ibu dan ayah yang baru memiliki bayi masih sering melakukan klahan. Mulai dari bayi yang tidak berhenti menangis sampai harus ke ruang gawat darurat sebuah rumah sakit. Berikut klahan yang kerap dilakukan dan cara mengatasinya.
1. Menengok bayi yang baru lahir
Bayi berusia di bawah enam bulan memerlukan waktu untuk membentuk sistem ketahanan tubuh yang kuat. Oleh sebab itu, Anda tidak boleh sungkan-sungkan meminta teman dan kerabat yang datang untuk mencuci tangan sebelum memegang bayi Anda dan minta kepada mereka untuk tidak berada terlalu dekat dengan bayi, terutama bila mereka sedang batuk atau flu.
Selain itu, hindari keramaian. Bila harus membawa si kecil keluar rumah, gendong anak dan hadapkan mukanya ke wajah Anda untuk menghindari orang yang tak dikenal berada dekat-dekat dengannya,
2. Pakaian
Bayi yang baru lahir sangat mudah kepanasan. Jadi, sebaiknya pakaikan baju yang tidak terlalu tertutup. Kenakan baju bayi sesuai cuaca sehingga dia tidak merasa terlalu kepanasan atau terlalu kedinginan.
3. Kunci sebagai pengganti mainan
Membiarkan anak Anda bermain dengan kunci sebagai pengganti mainan akan berisiko kunci tersebut dimasukkan ke dalam mulutnya. Bila gigi si kecil mulai tumbuh, simpan kunci-kunci karena kunci biasanya mengandung timah. Walaupun kadarnya rendah, tetap merupakan salah satu faktor penyebab penurunan IQ. Kadar timah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan otak.
4. Tidur tengkurap
Penelitian menunjukkan, bayi yang tidur tengkurap di atas selimut yang lembut berisiko 21 kali lipat terserang SIDS (sudden infant death syndrome/sindroma kematian bayi mendadak) dibanding bayi yang tidur telentang di atas selimut yang tak terlalu lembut atau mudah bergeser.
5. Kekurangan cairan pada bayi yang tidak rewel
Ada bayi yang tenang dan tidak rewel dan orang tua mengira bayinya tidak lapar. Hal ini ternyata keliru. Beri makanan pada bayi secara teratur dan perhatikan apakah ia sudah cukup makan atau belum. Tanda-tanda seorang bayi cukup makan adalah bila bayi mengompol paling tidak 6 kali dalam sehari pada usia satu minggu pertama sesudah kelahirannya. Bila Anda tidak melihat tanda-tanda ini, konsultasikan ke dokter.
6. Antibiotik
Banyak orang tua yang meminta dokter untuk memberikan antibiotik pada buah hatinya yang sedang sakit. Antibiotik tidak baik untuk penyakit yang disebabkan oleh virus yang umum seperti flu, muntah-muntah, diare, dan sakit tenggorokan (kecuali bila infeksi yang disebabkan oleh bakteri streptokokus). Selain itu, kebiasaan mengonsumsi antibiotik menyebabkan bayi menjadi kebal dan pada saat yang diperlukan antibiotik menjadi tidak berfungsi.
7. Dosis tepat
Beri obat pada si kecil sesuai dengan dosis yang disarankan. Dosis untuk bayi dan pada anak yang usianya lebih tua tidaklah sama. Untuk menghindari pemberian dosis yang berlebihan, ikuti saran yang diberikan dokter.
8. Benda – benda berbahaya
"Suatu hari saya menemukan kapur barus di dalam hidung anak saya", cerita seorang ibu yang mempunyai balita berusia 1,5 tahun. Begitu si kecil dapat merangkak, periksa seluruh sudut rumah Anda, perhatikan hal-hal yang berbahaya yang dapat dijangkau oleh anak Anda. Pindahkan stop kontak yang berada di bawah, singkirkan vas, pajangan-pajangan lain yang terbuat dari pecah-belah, ujung furnitur yang runcing, dan simpan obat-obatan dari tempat yang terjangkau oleh anak.
9. Anggapan bahwa alami berarti aman
Jangan menganggap bahwa produk alami aman bagi bayi sampai Anda mendapatkan kepastiannya dari dokter Anda. Hal yang sama berlaku bagi obat-obatan yang dapat Anda temukan di internet. Cetak informasi tersebut dan konsultasikan pada dokter anak Anda.
TIPS PENTING..!!!
v Kotoran bayi
Anda tidak perlu khawatir. Kadang kotoran bayi anda tampak aneh. Ada bayi yang kotorannya tidak keras, ada pula yang agak keras.
v Menggendong bayi
Pada usia 6 bulan sejak kelahirannya, sebaiknya Anda jangan terlalu sering menggendong si kecil.
v Demam
Pada bayi usia 6 minggu, Anda tidak perlu khawatir bila panas badannya mencapai 37°C sejauh dia tampak aktif dan gembira. Anda tidak perlu melarikannya ke rumah sakit, cukup menelepon dokter anak Anda.
CARA MENGANGKAT, MELETAKKAN DAN MENGGENDONG BAYI BARU LAHIR
I. Mengangkat Bayi
Melihat bayi yang lucu dan menggemaskan, ibu mana yang tidak ingin menggendongnya? Tapi si kecil terlihat belum berdaya. Tenang, dengan sedikit latihan, orangtua bisa mengangkat bayi dari tempat tidur dengan baik.
Berikut caranya :
1. Saat bayi telentang, masukkan tangan kiri (kanan) ke kepala dan leher. Lalu barengi dengan menyisipkan tangan kanan (kiri) ke bagian pantat hingga punggungnya.
2. Pastikan kedua tangan menyangga seluruh badan bayi, khususnya bagian leher yang masih tergolong rawan.
3. Letakkan bayi di dekapan. Satu tangan tetap menyentuh bokong hingga punggung. Sementara tangan yang satu menyangga kepala dan leher.
4. Usahakan posisi pantat lebih rendah dari posisi kepala .
II. Meletakkan bayi baru lahir
Berikut langkah-langkahnya :
1. Dekatkan bayi dengan tubuh, bungkukan badan, sementara satu tangan di bokong bayi , tangan lain menyangga punggung, leher dan kepala. Letakkan perlahan di tempat tidur.
2. Jangan terlalu cepat menarik kedua tangan. Biarkan kedua tangan anda berada di bawah tubuh bayi untuk beberapa saat. Setelah bayi dirasa nyaman lalu tarik kedua tangan secara perlahan.
III. Cara menggendong bayi
Inilah beberapa cara menggendong bayi disesuaikan tahapan usianya
Ø Usia 0 – 3 bulan
Ini cara menggendong yang paling lazim pada bayi baru lahir. Posisi bayi dibiarkan berbaring di lengan. Kepala dan leher berada di lipatan siku sedangkan tangan yang lain menahan punggung hingga pantat bayi.
Ø Usia 4 bulan
Satu lengan menopang kepala sebagian punggung serta leher bayi. Sedangkan tangan lain memegang pantat dan kaki. Posisi bayi setengah duduk di atas pangkuan. Badannya bersandar ke dada ibu dan pandangannya menghadap ke depan. Bayi merasakan kahangatan dari detak jantung ibunya.
Ø Usia 5 bulan ke atas
Bayi didudukkan di pinggang, dengan topangan salah satu lengan. Kedua kaki bayi melingkar di badan ibu.
Ø Usia 6 bulan
Menggendong di punggung dapat dilakukan pada bayi usia 6 bulan keatas. Di usia itu, otot bayi sudah kuat. Lehernya pun mampu menopang kepala dengan baik. Ini umumnya dilakukan dengan bantuan gendong. Menggendong dengan cara ini membuat kedua tangan ibu bebas melakukan aktifitas lain.
Menggendong bayi dari posisi telentang
Sanggalah leher & pantatnya. Sebelum menggendong dekatkan tubuh anda pada si kecil. Kemudian selipkan satu tangan (kiri) ke bawah kepala & lehernya dan tangan yang satu diletakkan di bawah pantatnya. Sambil mengangkat anda boleh membisikkan kata-kata hikmah yang bisa menenangkan sehingga si kecil merasa nyaman. Jagalah agar posisi kepala sedikit lebih tinggi dari bagian tubuh yang lain.
Menggendong Bayi dari Posisi Tengkurap
Topang leher dan perutnya dengan tangan. Selipkan tangan kanan di antara kaki untuk menopang perut dan dadanya. Selanjutnya selipkan tangan kiri Anda sehingga menopang pipi. Angkat dan balikkan bayi ke arah Anda. Angkat tubuh si kecil perlahan, sambil memutar badannya ke arah tubuh Anda. Perlahan, geser tangan yang sebelumnya menopang pipi ke arah pangkal lengannya. “Kunci”posisinya dengan mengapit lengannya dengan jari-jari di tangan kiri Anda. Jangan lupa untuk menjaga agar posisi kepalanya lebih tinggi dari bagian tubuh yang lain. Yang harus diingat, otot leher bayi baru lahir belum berkembang hingga usianya tiga bulan. Selama itu, saat menggendong Anda harus menopang lehernya.
PENTING..!!!
v JANGAN terlalu erat mendekap saat menggendong, karena bisa membuat bayi tidak nyaman. Rewel atau gelisah merupakan salah satu tanda bayi tidak nyaman dengan cara menggendong Anda. Jangan mengguncang atau mengayun-ayun bayi terlalu keras saat menggendong, karena bisa menyebabkan perdarahan di otak.
BELAJAR MENJADI IBU YANG BAIK
Hari ini aku menyadari, bahwa gelombang perasaan anakku merupakan reaksi dari gelombang perasaanku.
Beberapa hari terakhir bersikap sensitif, emosional, nyolot... bukan hanya kepadaku tapi juga kepada kawan-kawan mainnya yaitu sepupunya. Rupanya, selain memang sedang ga enak badan karena batuk pilek, dia juga menyimpan gelombang kegelisahan karena sering kumarahi. Memang akhir-akhir ini aku sering memarahi dan mengancamnya karena makannya terlalu lama. Bahkan bukan hanya saat makan aku memarahinya tapi juga setiap kali dia bersikap 'cari perhatian berlebihan'. Berkali-kali dalam sehari aku marah lagi dan lagi...
Penyebab aku marah biasanya adalah karena aku tidak sabar meladeninya makan, mandi, BAB, juga setiap kali dia bertengkar dengan sepupunya. Aku gelisah karena Esa dan juga anak-anak lainya selalu ribut bermain di rumah ketika bayiku sedang tidur. Aku tidak merasakan kedamaian karena setiap saat selalu khawatir bayiku akan terbangun karena keberisikan, lalu aku tidak akan bisa melakukan apapun selain menggendongnya. Padahal Esa juga tiap sebentar memintaku untuk memperhatikannya. Aku terganggu oleh konstannya perasaan khawatir tidak akan bisa mengerjakan apapun dengan tenang.
Sampai tadi, karena Esa demam malam sebelumnya maka aku lebih memperhatikannya dan tidak memaksanya memakan apapun dan membiarkan dia memilih makanan apa yang diinginkannya. Sebanyak atau sesedikit apapun yang masuk ke mulutnya kubiarkan dilakukannya sendiri. Daripada dia memuntahkan lagi makanannya dan perutnya makah jadi kosong sama sekali. Si Bayi Hamzah yang tenang selama ada yang gendong, hanya dibawa pulang oleh khadimatku untuk kususui. Dan selebihnya dia diletakkan di kain ayunan di rumahnya atau rumah kakak iparku sepanjang hari tadi. Alhamdulillah Bayi Hamzah budak bageur...anak baik, tidak rewel dipegang siapapun.
Lalu apa yang terjadi pada Esa? Dia kembali menjadi anak 3 tahun yang damai. Mendapat cukup perhatian dari uminya, dan tidak dimarahi. Aku pakai metode baru bila dia tidak menuruti kataku, aku bilang aku akan marah kalau dia tidak menurut hanya saja, kali ini marahku tidak pakai urat tapi dengan diam sama sekali dan tidak bereaksi pada panggilannya. Dia akan paham kalau aku marah kemudian berusaha meluruskan sikapnya dengan patuh dan berskap manis sampai aku mau melihatnya lagi... Dia panggil "umi...umi... sambil mengelus rambutku atau tanganku, dan membatalkan niatnya untuk kabur dari tidur siang. "Esa ga jadi main umi...". Manis sekali.
Ini hanyalah sekedar sharing bagaimana menjadi ibu yang baik, informasi ini diambil dari berbagai sumber yang telah saya baca
Langkah pertama, cintai anak-anak Anda, tidak peduli apa yang mereka lakukan. Mereka menunjukkan kepada orang lain apa yang mereka diberikan, dan cinta adalah pemberian yang paling penting yang dapat Anda berikan kepada mereka! Pelukan dan ciuman wajib diisi. Memeluk mereka tidak peduli seberapa “lama” mereka mungkin berpikir . Setiap orang membutuhkan pelukan untuk bertahan hidup.
Langkah ke dua, bersabarlah ketika mereka menumpahkan susu dan mendapatkan sisa-sisa kue pada karpet baru Anda. Menghitung sampai sepuluh dan bernapas. Sering kali sulit untuk tidak berteriak. Semua ibu berteriak pada titik tertentu dan jika Anda tidak, Anda tidak boleh membaca ini! Melatih diri untuk menghitung. Mungkin tidak menyimpan air mata, tetapi akan menyimpan rasa sakit.
Langkah ke tiga, menghormati anak-anak dan mereka akan menghormati Anda. Menghargai hal-hal yang mereka lakukan untuk Anda, dan mereka akan melakukannya lebih sering. Ganjaran dan memuji pekerjaan dan tugas-tugas yang dilakukan dengan baik akan mengajari mereka yang bekerja keras, menjadi orang yang baik, dan melakukan itu semua tanpa syarat adalah kunci untuk mempertahankan hidup yang hebat.
Langkah ke empat, tunjukkan anak Anda adalah orang yang bertanggung jawab dengan bekerja, menyediakan bagi mereka dan merawat kebutuhan mereka. Hal ini akan mengajarkan mereka untuk melakukan hal yang sama bagi keluarga mereka di masa depan. Membangun rumah yang penuh kasih untuk seorang anak adalah tanggung jawab tertinggi. Menghargai saat-saat keluarga dan anak-anak Anda menunjukkan seberapa banyak Anda bersedia lakukan untuk mereka.
Langkah ke lima, memiliki tujuan untuk anak-anak Anda, keluarga Anda dan diri Anda sendiri. Libatkan keluarga dalam tujuan Anda, mengajarkan mereka untuk membuat tujuan-tujuan mereka sendiri dan menantang mereka untuk mencapainya. Sebagai contoh, jika mereka menginginkan mainan baru dan tidak dekat dengan lebaran atau ulang tahun, minta mereka melakukan beberapa pekerjaan tambahan di rumah mereka tidak biasanya lakukan untuk mendapatkan mainan. Jika putra atau putri Anda yang br pada olahraga atau sekolah mendorong mereka untuk pergi jarak dan sekitarnya. Mendukung tim, pahala keunggulan dan berpartisipasi dalam prestasi mereka.
Langkah keenam, meneruskan tradisi untuk anak-anak Anda. Beberapa keluarga memiliki tradisi hari libur, yang lain memiliki tradisi sehari-hari. Ajari anak anda tentang sejarah keluarga Anda. Masak resep keluarga tua bersama-sama, cobalah kerajinan keluarga proyek atau merencanakan pesta bersama-sama. Menjaga tradisi keluarga tetap hidup keluarga dekat.
Langkah ke tujuh, mempengaruhi anak-anak Anda untuk menjadi yang terbaik yang mereka dapatkan. Berbicara dengan mereka, mempelajari apa yang mereka inginkan dari hidup dan menjawab pertanyaan mereka. Anak-anak akan lebih suka mendengar tentang kehidupan dari orang-orang yang mereka cintai dan kepercayaan daripada dari orang asing atau teman-teman. Anak-anak Anda akan mencintai dan menghormati Anda lebih banyak untuk berbicara dengan mereka, bukan untuk mereka.
Langkah ke delapan, bersikap baiklah kepada anak-anak Anda. Mereka lahir tidak bersalah. Jauhkan mereka dengan cara itu selama mungkin. Perlakukan anak Anda dengan martabat, rasa hormat dan cinta dan mereka akan memperlakukan Anda dengan sama!
MULIANYA PERAN “IBU”
Pada anak-anak usia dini, ibu memegang peran dan tanggung jawab yang terpenting. Pada usia dini, keterikatan anak dan ibu terjalin kuat. Bahkan secara khusus Al Qur’an menyebutkan adanya bakti kepada ibu, lebih dari ayah. Inilah pn Islam yang terdalam mengenai keutamaan dan kemuliaan peran ibu pada anak-anak usia dini.
“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (Qs. Luqman [31]: 14)
Dari Abu Hurairah r.a, meriwayatkan bahwa seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata: "Ya, Rasulullah, siapakah dari keluargaku yang paling berhak saya perlakukan dengan baik?" Jawab beliau, "Ibumu”. Dia bertanya, “Setelah itu siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Setelah itu siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Setelah itu siapa?” Beliau menjawab,”Bapakmu”. (HR. Bukhari Muslim)
Penghormatan Islam yang tertinggi kepada para ibu, antara lain tergambar dalam sabda Nabi SAW:
“Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu” . (HR. Ahmad)
Jannah (surga) Bagi sang “Ibu”
Bila seorang muslimah menyadari betapa tinggi dan mulia peran ibu, niscaya ia tidak akan menukarnya dengan aktivitas-aktivitas yang hukumnya mubah. Sekiranya ia harus bekerja untuk membantu mencukupi nafkah keluarganya, maka ia akan mencari cara pelaksanaan aktivitas tersebut tanpa mengurangi keoptimalan peran keibuannya. Ia akan menjadi orang yang ingin melalui tahap demi tahap pertumbuhan anaknya diusia dini, sejak merawat kandungan, melahirkan, menyusui, mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Islam memberikan balasan atas aktivitas-aktivitas tersebut setara dengan pahala pejuang fisabilillah digaris depan medan pertempuran. Sementara ganjaran syahid adalah syurga. Siapa yang tak inginkan hal ini?
Rasulullah bersabda:
“Wanita yang sedang hamil dan menyusui sampai habis masa menyusuinya seperti pejuang digaris depan fisabilillah. Dan jika ia meninggal diantara waktu tersebut, maka sesungguhnya baginya adalah mati syahid”. (HR. Thabrani)
Sungguh, motivasi meraih kemuliaan inilah yang mendorong para ibu untuk mencurahkan kesungguhannya menjalankan peranannya. Itulah sebabnya, tidak ada yang bisa menggantikan nilai strategis peran ibu dalam pendidikan anak usia dini. Ibu adalah pendidik anak yang pertama dan utama. Ibu adalah figur terdekat bagi anak. Kasih sayang sang ibu menjadi jaminan awal bagi tumbuh kembang anak secara baik dan aman. Para pakar berpendapat bahwa kedekatan fisik dan emosional merupakan aspek penting keberhasilan pendidikan.
Kita tentunya mendambakan lahirnya generasi-generasi unggulan berkualitas pemimpin. Sudah saatnya harapan ini ditanamkan pada anak sejak usia dini. Ibulah harapan utama dalam mencetak generasi dambaan ini.
Jika sebagian ibu masih mengmpingkan peranan “ibu” ini, bahkan melalaikan dengan berbagai alasan yang tidak dibenarkan dalam Islam, maka masihkah layak dikatakan syurga ditelapak kakinya? Wallahua’lam bisshowab.
“Umiiii….abi kerja lagii sekalii” (red: Abi kok kerja terus sih) dengan penuh penekanan anak pertamaku mengatakan itu padaku saat aku pakaikan baju kedia setelah memandikannya. Umur jagoan kecilku ini memang masih belum 3 tahun, tapi bagiku dia sudah memahami banyak hal tentang kehidupan orang-orang sekelilingnya. Memang kata-kata yang dia keluarkan kadang hanya aku yang mengerti bahkan kalau aku tidak mendengarkannya dari awal, aku hanya bisa bengong dengan ucapan-ucapan yang dia kelurkan, karena tatabahasa yang tidak bagus dan kadang-kadang bercampur dengan bahasa Inggris (yang pengucapannyapun tidak begitu jelas). Mendengar jundiku berbicara seperti itu, aku jadi terharu, dan kemudian aku peluk dia dan berkata “Abi kerja, kan untuk kita semua, Alhamdulillah masih punya umi di rumah kan?”. Entah dia mengerti atau tidak, yang pasti dia sudah tertawa dan melupakan ketidak hadiran abinya dirumah saat itu.
Kalau kita amati anak-anak, mereka senang sekali kalau orang-orang yang mereka cintai selalu ada didekat mereka. Mereka akan kesepian ketika kita tinggalkan. Jangankan untuk kita tinggalkan secara fisik, kita berada disamping mereka saja tapi kita mengerjakan hal yang lain, anak-anak sudah merasa tidak senang, dan mulai mencari-mencari perhatian kita dengan berbagai cara, salah satunya yang sering dilakukan anakku adalah merebut mainan dari adeknya. Saat itupun aku membayangkan diriku sebagaimana anak kecil, aku tidak bisa bayangin kalau aku diasuh oleh orang yang tidak aku kenal. Bagaimana perasaan anak-anak yang pengasuhan dan perawatan mereka ada ditangan baby sitter?
Disini saya ambil judul ibu yang “ibu”, karena sering kali sebagian br muslimah yang sudah menjadi ibu tapi tidak mengerti dan bahkan tidak melakukan perannya sebagai seorang “ibu”. Banyak sekali para ibu karena tidak menginginkan kehadiran anaknya didunia ini, anaknya dibuang kesungai. Banyak ibu yang karena enggan merasa capek dan menderita dalam melahirkan dan merawat anaknya, diserahkan perawatan dan pencurahan kasih sayang kepada pembantunya. Banyak para ibu yang karena takut menghambat karirnya dan merusak tubuhnya, tidak merasa perlu memberika ASI bagi anaknya. MasyaAllah….
Anak-anak itu adalah titipan Allah, dan kita harus mempertanggung jawabkannya nanti dihadapanNya.
Rasulullah SAW bersabda:
“kalian semua adalah pemimpin. Dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin dirumahtangganya dan dia bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang wanita (ibu) adalah pemimpin dirumah suaminya dan anak-anaknya, dan dia bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya” (Muttafaq Alaih)
Hadits tersebut mengatur peran ayah dan ibu dalam keluarga. Ayah sebagai pemimpin keluarga dan ibu juga memiliki peran yang penting dan strategis dalam pendidikan anak dirumah.
*anakku sayang, umi akan berusaha keras untuk menjadi guru terbaik bagimu, maafkan umi jika masih banyak klahan yang umi lakukan terhadapmu. Semoga Allah menjadikan kalian anak shaleh dan generasi pilihan.
AGAR OKE MENDIDIK ANAK
ü Perlakuan atau metode pendekatan yang dipakai untuk mendidik anak-anak berbeda-beda sesuai karakteristik masing-masing anak. Bisa jadi, seorang ibu perlu 3 alternatif model pendekatan untuk tiga anaknya. Hasil konsultasi untuk salah seorang anak belum tentu cocok untuk diterapkan kepada anak lain.
ü Anak-anak berubah dan berkembang secara bertahap. Perkembangan yang terjadi pada masing-masing anak tidak sama sehingga diperlukan kbaran. Bukan sebuah tindakan yang bijaksana jika kita membanding-bandingkan kemampuan anak dengan kemampuan anak lain.
ü Ibu selalu berusaha untuk memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan. Menurut penelitian, ibu yang berpendidikan tinggi cenderung bersifat lebih terbuka terhadap hal-hal baru karena lebih sering membaca dan menambah pengetahuannya. Hal ini berbeda dengan ibu yang berpendidikan rendah dengan pengetahuan dan pengertian yang terbatas mengenai kebutuhan dan perkembangan anak sehingga kurang menunjukkan pengertian dan cenderung mendominasi anak. Maka tak heran jika keluhan ibu kuno, kolot, kuper dan yang sejenisnya sering terlontar.
Trims.. Artikelnya sangat bermanfaat
BalasHapusDan untuk membeli kaos kaki bayi dengan harga grosir dimana ya..
Terima kasih sangat bermanfaat
BalasHapusNice artikel
BalasHapusTerimakasih sangat berfaedah
BalasHapus