Jumat, Maret 06, 2009

Mereka Cerdas Tanpa Belajar...

ARSAD CIBEO JELEK RUMAH KARMAIN ARSAD ARTA ARSAD PALING JELEK." Tulisan dengan huruf kapital dan tanpa tanda baca itu terpampang jelas di salah satu kayu rumah Karmain. Jika diberi tanda baca, rangkaian huruf-huruf abjad warna hitam itu mungkin berbunyi: "Arsad Cibeo jelek. Rumah Karmain, Arsad, (dan) Arta. Arsad paling jelek."

Karmain, si pemilik rumah, mengatakan, tulisan itu dibuat oleh Arsad. Anak berusia sekitar enam tahun ini adalah keponakan Karmain, yang sehari-hari tinggal bersama mereka.

Seperti anak-anak Badui lainnya, Arsad belum pernah mencicipi pendidikan sekolah. Ia pun jarang-jarang pergi ke Ciboleger, pintu gerbang menuju Kanekes, yang sudah ada sekolahnya. Bisa dikatakan, dunia Arsad terkungkung di antara ladang-ladang dan bangunan rumah-rumah bambu di Kampung Cibeo.

Untuk rumah-rumah yang ada anak kecilnya, coretan-coretan seperti di atas memang sudah biasa. Akan tetapi, yang "tidak biasa" dalam kasus Arsad ini adalah tulisan huruf abjad itu terdapat di sebuah rumah di perkampungan Badui Dalam. Sebuah komunitas yang tidak mengenal tradisi baca-tulis.

Selain itu, hampir semua orang tahu bahwa orang Badui "mengharamkan" sekolah bagi anak-anak mereka. Tetapi kenyataan itu menunjukkan, seorang bocah Badui telah mampu menulis. Yang menjadi pertanyaan: dari mana si bocah Badui itu belajar menulis?

Berkali-kali Karmain menegaskan, tak seorang pun pernah mengajari Arsad menulis. Orang Badui tidak punya alat-alat tulis seperti kertas atau pensil.

SUDAH menjadi pengetahuan umum, sekolah bagi masyarakat Badui adalah hal yang tabu. Mereka sangat anti-sekolah dan tidak akan memasukkan anak-anak Badui ke ruang kelas.

Kepala Desa Kanekes Jaro Dainah menegaskan, orang- orang Badui tidak pernah bersekolah secara formal. Hal ini sesuai dengan ketentuan adat Badui, meski aturan itu tidak tersurat. "Secara formal kami memang tidak sekolah, tetapi kami hidup dengan benar," kata Dainah.

Menurut Karmain, pendidikan untuk anak-anak Badui diberikan melalui praktik-praktik langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan model pendidikan langsung praktik itu, masyarakat Badui ternyata tidak mempunyai persoalan apa-apa. Mereka menemukan kedamaian, ketenteraman, dan ketenangan hidup. Oleh karena itu, Dainah menegaskan lagi agar pemerintah tidak memaksa warga Badui masuk sekolah.

Meski demikian, para pemuka adat Badui tidak pernah menghalangi warganya untuk mengecap pendidikan sekolah. Namun, seperti halnya berlaku untuk mereka yang sudah tidak kuat lagi berpegang pada aturan adat, orang Badui yang ingin sekolah harus keluar dari komunitas adat Badui.

Sudah banyak warga Badui yang keluar dari masyarakat Badui. Sekretaris Desa Kenekes Haji Sapin bercerita, orangtuanya dulu keluar dari masyarakat Badui karena ingin menyekolahkan anak-anaknya. Setelah keluar dari Badui tahun 1977-1978, keinginan itu terpenuhi.

Haji Sapin sendiri adalah lulusan SMA tahun 1987/1988. Bahkan, adiknya yang bernama Bayi Nurhasanah adalah sarjana perguruan tinggi Islam swasta di Rawamangun, Jakarta Timur. Mereka kini tinggal di Kampung Sukamaju, Kecamatan Leuwidamar.

Kendati tidak memiliki tradisi membaca dan menulis, orang Badui tidak gagap menghadapi kemajuan zaman. Ketika mereka bepergian ke kota-kota besar seperti Jakarta atau Bandung, mereka tidak pernah tersesat.

Di kota-kota besar itu, mereka juga tidak kesulitan mencari alamat orang yang ditujunya. M Iwan Nitnet, warga Serang yang juga penggiat budaya-budaya Banten, mengatakan, kebiasaan orang Badui jika memperoleh alamat, berupa kartu nama atau tanda lainnya, mereka akan berusaha mencari letak alamat tersebut.

"Rasa ingin tahu orang Badui sangat tinggi," kata Iwan. Ia menambahkan, ketika beberapa orang Badui Dalam berkunjung ke rumahnya, orang Badui itu tampak tertarik pada peralatan elektronik seperti kamera dan telepon genggam. "Mereka coba pakai telepon genggam sambil berjalan-jalan, mirip yang dilakukan banyak orang," ujar Iwan.

HINGGA kini, belum ada penjelasan yang logis dari warga Badui atas kemampuan Arsad menuliskan huruf-huruf abjad yang mengandung makna, seperti diungkapkan di awal tulisan ini. Yang ada hanyalah penjelasan-penjelasan yang bersifat spekulatif.

Iwan Nitnet, misalnya, memperkirakan, kemampuan anak Badui seperti Arsad dalam menulis, mungkin diam-diam anak-anak Badui itu mengamati bentuk-bentuk huruf pada bungkus produk-produk yang masuk ke kawasan tersebut.

Di samping itu, muncul juga spekulasi bahwa pengajaran baca-tulis itu dilakukan para pengunjung ke kampung Badui. Akan tetapi, mengingat para pengunjung umumnya tinggal di tempat itu hanya untuk jangka pendek, spekulasi itu juga masih lemah.

Andaikata spekulasi terakhir itu benar, bisa dibayangkan tingkat kecerdasan bocah-bocah Badui yang tidak pernah mencicipi belajar di kelas. Persoalan ini kembali mengingatkan bahwa masih banyak selubung misteri di Badui. Seperti dikatakan Iwan, orang Badui sendiri juga membiarkan misteri itu tetap menjadi misteri....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kami akan hapus komentar bernada spam